-chapter 2- by MarioBastian Kenapa hatiku cenat cenut setiap ada kamu... Selalu peluhku menetes tiap dekat kamu... Aku sudah jutaan kali bertemu orang idiot. Aku melihatnya di teve dan bahkan adik salah satu temanku di US juga idiot. Dari pengamatanku, mereka memiliki struktur wajah yang sama. Dan berapa pun usia mereka, cara berpikirnya tetap kekanak-kanakan. Nggak pernah dewasa. Tapi aku ragu jika harus memasukkan Bang Dicky ke dalam kategori ini. First , idiot nggak bisa masak seenak itu dan nggak akan bisa menyetir mobil. Second , wajahnya terlalu “menakjubkan” untuk disebut idiot. (Saking menakjubkannya, aku yakin aku rela menjadi idiot demi wajah attractive seperti Bang Dicky.) “Naah! Itu yang namanya Morgan, Agas! Itu!” jerit Granny kegirangan. Dia melompat dari sofanya, menyebrangi meja rendah di hadapan kami dan berhenti tepat di depan teve. “Ganteng kan, Gas? Yang ini!” Granny tetap menunjuk artis idolanya itu kemanapun gambar...
Komentar
Posting Komentar