Postingan

kctt 9d

chapter 9- (4) by MarioBastian Ruangan ini, jujur saja, makin lama makin menyeramkan. Bayangkan ini: nggak ada jendela sedikitpun, ada lubang ventilasi kecil di dinding sebelah sana, tapi ruangan ini tetap terasa lembap, seperti berada dalam gua penuh lumut. Ada peti mati besar menempel di dinding, dan di seberangnya diletakkan kursi goyang tua yang sudah dihiasi jaring laba-laba. Great. Sekarang aku benar-benar ada di film horror! Di sudut lain ruangan kecil itu ada beberapa meja kecil, dan rangka ranjang besi tanpa kasur, seperti ranjang rumah sakit, tapi minus kasur. Di dindingnya pun terletak beberapa foto berpigura cantik, yang untuk kali ini tidak kukenal siapa modelnya. Aku mengelilingi ruangan itu dengan jantung berdebar kencang. Rasa takutku seimbang dengan rasa penasaranku. Sebagian otakku memerintahkan untuk berlari, sementara sebagian lagi berteriak, “Tunggu sebentar lagi! Mungkin kamu bisa menemukan petunjuk!” Aku meraba ranjang itu, dingin. Menatap meja-meja kecil di seki...

kctt 9c

chapter 9- (3) by MarioBastian “Aku... tadi... barusan ada...” Dengan bingung aku mencoba menjelaskan situasiku. Sayangnya ada dua pendapat berbeda di benakku. Haruskah aku mengatakannya pada Zaki atau aku diam saja karena bisa jadi itu hanya penampakan tak berarti atau paling parah adalah halusinasiku. Kalau memang hantu itu ada, dan bersembunyi di bawah ranjangku selama ini, kedengarannya mengerikan. Tapi tinggal di rumah ini sih mesti siap sama hal-hal tak masuk akal macam begitu. I mean, siapa yang bisa menjelaskan tentang Pak Darmo? Berkali-kali aku bertanya, aku hanya mendapat jawaban seadanya saja. Aku memang akhirnya tahu sedikit sejarah tentang hantu itu. Tapi orang-orang di sini memberikan kesan seolah “Pokoknya jauhin hantu itu dan jangan banyak tanya lagi”. Nah, bisa jadi dua hantu anak kecil itupun nggak ada bedanya dengan Pak Darmo. Bisa jadi aku mestinya diam saja, jangan banyak tanya. Dan mungkin menunggu “waktu yang tepat” seperti kata Granny, which might be in the nex...

kctt 9b

chapter 9- ( 2 ) by MarioBastian “Kenapa aku nggak boleh datang ke rumah Bang Dicky?” tanyaku sambil melepaskan genggaman Zaki dari pergelangan tanganku. “Karena... karena Bang Dicky nggak ada di situ.” Zaki menelan ludah. “Jadi ngapain juga bos ke situ?” “Karena di situ ada hantu Pak Darmo?!” tembakku. Zaenab berjengit mendengar kata hantu sementara Zaki terlihat agak panik. Zaki melemparkan pandangannya ke arah lain, seolah sedang mencari kekuatan untuk mengatakan sesuatu padaku. Dia menghembuskan napas berkali-kali, berjalan konstan keluar dari gang kampung kota ini. “Karena...” Akhirnya Zaki bicara. “Karena kita nggak mau kejadian minggu kemaren keulang lagi. Kita nggak mau dia lepas lagi, kan?” -XxX- Mobil pick-up milik Zaki, yang kabarnya baru akan lunas cicilannya dua tahun lagi, melaju santai di sebuah tanjakan lurus daerah Cimahi. Yang kulihat di sekitar hanyalah pepohonan, rerumputan, pegunungan yang diselimuti awan, dan kalau aku menengok ke arah kanan aku bisa melihat kota ...

kctt 9a

chapter 9- ( 1 ) by MarioBastian   Okay. Jangan panik. Seburuk-buruknya bullying di sekolah, nggak akan sampe mengancam nyawaku. Lagipula aku sudah siap mental, kan, selama ini? Aku sudah digunjingkan gay di sana sini, aku sudah dikurung di WC dan dilempari ular, aku bahkan sudah diskors dari sekolah, what could be worse than that? “Stay away, man...” dengus Derry sambil mengangkat tangannya. “Lo bisa ketularan homonya dia, kayak si Cazz-chong kemaren.” Sebagian kawannya langsung terkikik mengejek dan sebagian lagi mendengus tidak suka. Setengah mati aku memutar ingatan di otak, mengingat film tentang remaja gay yang dibully di sekolahnya. Barangkali aku bisa mencontek si tokoh gay dalam menyelamatkan diri? Apakah mereka melawan balik? Menghilang seperti genie? Oh, kenapa yang ada di otakku hanya Kurt Hummel dan slushie-nya! “Kita perkosa aja, Bos?” sahut Akbar sambil mengepalkan tangannya. “Ya nggak, lah! Entar dia yang seneng, Bahlul!” sentak Derry. “Lu homo ya pake mikir perkosa...